Bener Meriah — Sebuah lembaga yang bermarkas di California, Amerika
Serikat bergerak di bidang penanganan perdagangan manusia dan perbudakan (human
trafficking and slavery) melakukan penelitian mendalam (investigasi) terhadap
petani kopi Bener Meriah untuk mengetahui ada tidaknya praktik perbudakan.
Lembaga anti perdagangan manusia dan
perbudakan tersebut adalah Not For Sale Fund yang dipimpin Dr David Batstone.
David Batstone berkunjung langsung ke Bener Meriah dalam misi untuk melihat
kondisi petani kopi sekaligus mencari partner kerja sama dan juga ingin
mengetahui mata rantai perdagangan kopi. Ketika berada di Bener Meriah, Minggu
(8/7), Batstone didampingi Direktur Gayo Nusantara Agribisnis, Ir Tagore
Abubakar dan Direktur PT Sustainable Lifestyle, Gozali Hansen.
Menurut Gozali, pertemuan David
Batstone dengan petani berlangsung di Puskud Aceh, Pante Raya, Kecamatan Wih
Pesam. Batstone bertemu langsung dengan petani kopi dan tanaman hortikultura
yang tergabung dalam beberapa koperasi serta kelompok tani yang sebagian
merupakan janda korban konflik di Aceh. “Tujuannya ke Bener Meriah untuk
mencari partner yang bisa diajak kerja sama dan sekaligus ingin mengetahui mata
rantai perdagangan kopi,” kata Gozali Hansen.
Gozali berharap tindak lanjut
pertemuan tersebut terjalin kerja sama antara Not For Sale dengan Tagoria
Institute sebagai perpanjangan tangan di Kabupaten Bener Meriah, dalam
memperhatikan nasib buruh tani kopi.
Menurut Gozali, apabila ada petani
yang menjual kopi murah berarti kesejahteraan mereka sangat rendah dan ini
tergolong perbudakan yang seharusnya tidak terjadi. “Not For Sale akan berusaha
memotong sebagian mata rantai perdagangan kopi sehingga nantinya akan berdampak
pada tingginya nilai jual sehingga petani bisa sejahtera,” kata Gozali Hansen. (tribunnews.com)






0 komentar:
Posting Komentar